Monday, June 13, 2016

Ayam Ngorok,nyekrek dan pencegahannya.

Ayam  nyekrek,ngorok menjadi penyakit ayam yang sering dialami di daerah peternakan ayam bogor. Pengalaman ini sering menghambat keberhasilan panen kami.Yang kami catat,penyakit ayam nyerkek,ngorok ini kadang kala menyebabkan kondisi ayam semakin parah,nafsu makan berkurang dan berat ayam menurun drastis. Saya kira penting sekali kita evaluasi masalah penyakit ini, penyebabnya apa, dan  penanganannya bagaimana.
 
Salah satu penyebab datangnya penyakit yang dikenal dengan istilah CRD  ini adalah  karena kadar amoniak yang terlalu tinggi dalam kandang sehingga menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan ayam. Asam amoniak ini selalu menjadi perhatian utama penyebab ayam jadi nyekrek.  Sehingga yang dapat kita lakukan adalah dengan menurunkan level bau amoniak dalam kandang dan selanjutnya memberikan antibiotik dan suplemen multivitamin  dan mineral untuk memperbaiki jaringan tubuh
yang rusak.

Penyakit ngorok atau CRD yang bersifat kronis.
Disebut “kronis” karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama dan sulit untuk disembuhkan. Salah satu gejala khas dari penyakit ini adalah ngorok, sehingga peternak lebih umum
menyebutnya dengan penyakit ngorok.Penyebab utamanya adalah Mycoplasma. Sebenarnya serangan Mycoplasma ada 2 jenis. Pertama, Mycoplasma gallisepticum yang
menyerang sistem pernapasan atas dan menimbulkan kasus yang disebut ngorok. Jenis ini paling sering muncul di peternakan ayam komersial.

Penyakit crd ini dari awal fase pemeliharaan  memang harus diawasi, atau kita rajin menditeksi apakah ayam ita ada tanda-tanda terkena penyakit ini.  apakah ada ayam di tempat kita berdiri ada yang mulai nyekrek, maka kita harus cepat memisahkan ayam tersebut, dan secara keseluruhan  kita memberi ayam kita 
Pengobatan dengan antibiotik selama 5 hari.Selain itu kadar asam amoniak harus kita tekan juga, dan bila perlu kita melakukan penyemprotan antiseptik untuk mengurangi kadar asam amoniak di dalam kandang ayam tsbt.

Yang menjadi perhatian utama kita adalah bila  crd ini akhirnya tidak kunjung sembuh. Kasus yang semula hanya CRD murni kemudian berkembang menjadi kompleks  Kasus CRD yang telah berkolaborasi dengan E. coli bisa memicu mortalitas hingga angka 10-15%, atau bahkan bisa mencapai 20%. Sementara untuk CRD murni, kematian yang ditimbulkan terbilang sangat rendah, sekitar 5% atau tidak ada. Di samping menjalin hubungan dekat dengan E. coli, CRD dalam beberapa kasus juga bisa meningkatkan kepekaan terhadap infeksi korisa, kolera, koksidiosis, Gumboro dan ND (lihat Grafik 3.), sehingga kerusakan jaringan dan organ tubuh ayam yang muncul akan lebih parah. Dan secara otomatis, angka produksi baik broiler maupun layer pun akan turun. Dari beberapa kejadian di lapangan juga dilaporkan bahwa serangan CRD secara langsung berdampak pada tidak maksimalnya pertumbuhan ayam. Pada ayam broiler, dalam waktu 30 hari keadaan normal, bobot badan ayam bisa mencapai 1,6-1,8 kg. Namun jika ayam terserang CRD, dalam kurun waktu yang sama, ayam hanya bisa mencapai bobot badan 1-1,2 kg.

Kami mencatat upaya pencegahan penting sekali mulai dilakukan dari star awal chek in doc, dengan upaya menditeksi kondisi kesehatan ayam,lalu udara di dalam kandang terkait baunya asam amoniak, lalu bagaimana kondisi sekamnya. Secara keseuruhan kita harus memperhatikan titik awal manajemen pemelihar
aan ayam mulai dari sanitasi kandang secara baik dan benar. Upaya mengobati penyakit ayam,uapaya pencegahan penyakit ayam, dan upaya lainya dimasa pemeliharaan ayam akan menjadi upaya yang sia-sia bila dari awal sanitasi kandang tidak dilakukan dengan benar.

0 comments:

Post a Comment