Showing posts with label Penyakit ayam. Show all posts
Showing posts with label Penyakit ayam. Show all posts

Monday, June 13, 2016

Ayam  nyekrek,ngorok menjadi penyakit ayam yang sering dialami di daerah peternakan ayam bogor. Pengalaman ini sering menghambat keberhasilan panen kami.Yang kami catat,penyakit ayam nyerkek,ngorok ini kadang kala menyebabkan kondisi ayam semakin parah,nafsu makan berkurang dan berat ayam menurun drastis. Saya kira penting sekali kita evaluasi masalah penyakit ini, penyebabnya apa, dan  penanganannya bagaimana.
 
Salah satu penyebab datangnya penyakit yang dikenal dengan istilah CRD  ini adalah  karena kadar amoniak yang terlalu tinggi dalam kandang sehingga menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan ayam. Asam amoniak ini selalu menjadi perhatian utama penyebab ayam jadi nyekrek.  Sehingga yang dapat kita lakukan adalah dengan menurunkan level bau amoniak dalam kandang dan selanjutnya memberikan antibiotik dan suplemen multivitamin  dan mineral untuk memperbaiki jaringan tubuh
yang rusak.

Penyakit ngorok atau CRD yang bersifat kronis.
Disebut “kronis” karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama dan sulit untuk disembuhkan. Salah satu gejala khas dari penyakit ini adalah ngorok, sehingga peternak lebih umum
menyebutnya dengan penyakit ngorok.Penyebab utamanya adalah Mycoplasma. Sebenarnya serangan Mycoplasma ada 2 jenis. Pertama, Mycoplasma gallisepticum yang
menyerang sistem pernapasan atas dan menimbulkan kasus yang disebut ngorok. Jenis ini paling sering muncul di peternakan ayam komersial.

Penyakit crd ini dari awal fase pemeliharaan  memang harus diawasi, atau kita rajin menditeksi apakah ayam ita ada tanda-tanda terkena penyakit ini.  apakah ada ayam di tempat kita berdiri ada yang mulai nyekrek, maka kita harus cepat memisahkan ayam tersebut, dan secara keseluruhan  kita memberi ayam kita 
Pengobatan dengan antibiotik selama 5 hari.Selain itu kadar asam amoniak harus kita tekan juga, dan bila perlu kita melakukan penyemprotan antiseptik untuk mengurangi kadar asam amoniak di dalam kandang ayam tsbt.

Yang menjadi perhatian utama kita adalah bila  crd ini akhirnya tidak kunjung sembuh. Kasus yang semula hanya CRD murni kemudian berkembang menjadi kompleks  Kasus CRD yang telah berkolaborasi dengan E. coli bisa memicu mortalitas hingga angka 10-15%, atau bahkan bisa mencapai 20%. Sementara untuk CRD murni, kematian yang ditimbulkan terbilang sangat rendah, sekitar 5% atau tidak ada. Di samping menjalin hubungan dekat dengan E. coli, CRD dalam beberapa kasus juga bisa meningkatkan kepekaan terhadap infeksi korisa, kolera, koksidiosis, Gumboro dan ND (lihat Grafik 3.), sehingga kerusakan jaringan dan organ tubuh ayam yang muncul akan lebih parah. Dan secara otomatis, angka produksi baik broiler maupun layer pun akan turun. Dari beberapa kejadian di lapangan juga dilaporkan bahwa serangan CRD secara langsung berdampak pada tidak maksimalnya pertumbuhan ayam. Pada ayam broiler, dalam waktu 30 hari keadaan normal, bobot badan ayam bisa mencapai 1,6-1,8 kg. Namun jika ayam terserang CRD, dalam kurun waktu yang sama, ayam hanya bisa mencapai bobot badan 1-1,2 kg.

Kami mencatat upaya pencegahan penting sekali mulai dilakukan dari star awal chek in doc, dengan upaya menditeksi kondisi kesehatan ayam,lalu udara di dalam kandang terkait baunya asam amoniak, lalu bagaimana kondisi sekamnya. Secara keseuruhan kita harus memperhatikan titik awal manajemen pemelihar
aan ayam mulai dari sanitasi kandang secara baik dan benar. Upaya mengobati penyakit ayam,uapaya pencegahan penyakit ayam, dan upaya lainya dimasa pemeliharaan ayam akan menjadi upaya yang sia-sia bila dari awal sanitasi kandang tidak dilakukan dengan benar.

Ayam Ngorok,nyekrek dan pencegahannya.

Ayam  nyekrek,ngorok menjadi penyakit ayam yang sering dialami di daerah peternakan ayam bogor. Pengalaman ini sering menghambat keberhasilan panen kami.Yang kami catat,penyakit ayam nyerkek,ngorok ini kadang kala menyebabkan kondisi ayam semakin parah,nafsu makan berkurang dan berat ayam menurun drastis. Saya kira penting sekali kita evaluasi masalah penyakit ini, penyebabnya apa, dan  penanganannya bagaimana.
 
Salah satu penyebab datangnya penyakit yang dikenal dengan istilah CRD  ini adalah  karena kadar amoniak yang terlalu tinggi dalam kandang sehingga menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan ayam. Asam amoniak ini selalu menjadi perhatian utama penyebab ayam jadi nyekrek.  Sehingga yang dapat kita lakukan adalah dengan menurunkan level bau amoniak dalam kandang dan selanjutnya memberikan antibiotik dan suplemen multivitamin  dan mineral untuk memperbaiki jaringan tubuh
yang rusak.

Penyakit ngorok atau CRD yang bersifat kronis.
Disebut “kronis” karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama dan sulit untuk disembuhkan. Salah satu gejala khas dari penyakit ini adalah ngorok, sehingga peternak lebih umum
menyebutnya dengan penyakit ngorok.Penyebab utamanya adalah Mycoplasma. Sebenarnya serangan Mycoplasma ada 2 jenis. Pertama, Mycoplasma gallisepticum yang
menyerang sistem pernapasan atas dan menimbulkan kasus yang disebut ngorok. Jenis ini paling sering muncul di peternakan ayam komersial.

Penyakit crd ini dari awal fase pemeliharaan  memang harus diawasi, atau kita rajin menditeksi apakah ayam ita ada tanda-tanda terkena penyakit ini.  apakah ada ayam di tempat kita berdiri ada yang mulai nyekrek, maka kita harus cepat memisahkan ayam tersebut, dan secara keseluruhan  kita memberi ayam kita 
Pengobatan dengan antibiotik selama 5 hari.Selain itu kadar asam amoniak harus kita tekan juga, dan bila perlu kita melakukan penyemprotan antiseptik untuk mengurangi kadar asam amoniak di dalam kandang ayam tsbt.

Yang menjadi perhatian utama kita adalah bila  crd ini akhirnya tidak kunjung sembuh. Kasus yang semula hanya CRD murni kemudian berkembang menjadi kompleks  Kasus CRD yang telah berkolaborasi dengan E. coli bisa memicu mortalitas hingga angka 10-15%, atau bahkan bisa mencapai 20%. Sementara untuk CRD murni, kematian yang ditimbulkan terbilang sangat rendah, sekitar 5% atau tidak ada. Di samping menjalin hubungan dekat dengan E. coli, CRD dalam beberapa kasus juga bisa meningkatkan kepekaan terhadap infeksi korisa, kolera, koksidiosis, Gumboro dan ND (lihat Grafik 3.), sehingga kerusakan jaringan dan organ tubuh ayam yang muncul akan lebih parah. Dan secara otomatis, angka produksi baik broiler maupun layer pun akan turun. Dari beberapa kejadian di lapangan juga dilaporkan bahwa serangan CRD secara langsung berdampak pada tidak maksimalnya pertumbuhan ayam. Pada ayam broiler, dalam waktu 30 hari keadaan normal, bobot badan ayam bisa mencapai 1,6-1,8 kg. Namun jika ayam terserang CRD, dalam kurun waktu yang sama, ayam hanya bisa mencapai bobot badan 1-1,2 kg.

Kami mencatat upaya pencegahan penting sekali mulai dilakukan dari star awal chek in doc, dengan upaya menditeksi kondisi kesehatan ayam,lalu udara di dalam kandang terkait baunya asam amoniak, lalu bagaimana kondisi sekamnya. Secara keseuruhan kita harus memperhatikan titik awal manajemen pemelihar
aan ayam mulai dari sanitasi kandang secara baik dan benar. Upaya mengobati penyakit ayam,uapaya pencegahan penyakit ayam, dan upaya lainya dimasa pemeliharaan ayam akan menjadi upaya yang sia-sia bila dari awal sanitasi kandang tidak dilakukan dengan benar.

Thursday, June 2, 2016



Salah satu penyakit yang kerap menghinggapi peternakan  di daerah ciseeng bogor ini adalah Kolibasilosis. Penyakit ini sering dijumpai bahkan seolah-olah telah menjadi penyakit langganan yang sudah gak aneh lagi. Kejadian penyakit ini umumnya berkaitan langsung dengan pemilihan lokasi dan lingkungan peternakan terutama kebersihan. Salah satu yang kita  waspadai adalah dengan sumber air minum di lapangan, karena keberadaan bakteri Escherichia coli penyebab Kolibasilosis di air dan tanah merupakan flora normal. Mungkin juga berdasarkan pengamatan di lapangan, kebiasaan peternak menggunakan sumurdangkal sebagai sumber air minum untuk ternaknya merupakan penyebab utama Kolibasilosis.. Sebabnya, sumur dangkal tersebut rawan tercemari oleh kuman E. coli terutama yang letaknya dekat dengan septic tenk misalnya.  Upaya pencegahan bisa di mulai dari kebersihan lingkungan kandang.

1. Sanitasi dan desinfeksi kandang dan peralatannya.

Kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan. Tempat minum dicu¬ci setiap 2 kali sehari. Kemudian rendam tempat minum yang telah dicuci dalam
desinfektan selama 30 menit, setiap 4 hari sekali. Majukan atau rnundurkan jadwal desinfeksi bila bertepatan dengan jadwal vaksinasi.

2. Mencegah tamu, hewan liar, dan hewan peliharaan lain masuk ke lingkungan kandang

3. Mencegah stres.

Usahakan menghindari stres pada ayam dengan cara tatalaksana pemeliharaan yang benar, populasi ayam jangan terlalu padat, ventilasi udara cukup, dan diusahakan
agar kadar amonia kurang di dalam kandang. Karena saat stres, semua bibit penyakit dapat dengan mudah masuk ke tubuh ayam. 

4. Sanitasi air minum. 

Sanitasi sumber air minum untuk ayam dari pencemaran logam berat dan kuman patogen dengan melarutkan desinfektan yang aman dikonsumsi ayam. Program sanitasi air
minum dilakukan 1-2 kali dalam 1 minggu asal tidak mendekati jadwal vaksinasi. Sanitasi air rninum bisa dilakukan dengan klorinasi dengan cara memasukkan 3-5 ppm  klorin ke dalam air minum. Lebih dari dosis tersebut, malah dapat menurunkan konsumsi ransum, konsumsi air minum dan produksi telur karena mengubah aras dan bau. Di peternakan, klori¬nasi dilakukan menggunakan kaporit karena kaporit mengandung zat aktif klorin. Jika meng¬gunakan kaporit murni, maka untuk memperoleh kadar yang aman dalam air minum dibutuhkan 6-10 gram kaporit tiap 1000 liter. Namun, biasanya kaporit yang tersedia di pasaran adalah konsentrasi 50% sehingga dosi pemakaian menjadi dua kali dari kaporit murni, yaitu 12-20 gram tiap 1000 liter air.Kaporit dapat mengubah rasa dan bau air sehingga dapat menurunkan konsumsi air dan ransum. Oleh sebab itu, air minum yang mengandung kaporit harus dibiarkan terlebih dahulu minimal selama 6 jam sebelum diberikan ke ayam.Kualitas air sangat menentukan kadar bakteri di dalamnya, untuk mengetahui apakah sumber air rninum bebas dari pencemaran logam berat atau kuman patogen dapat dilakukan pemeriksaan sampel air di laboratorium.Standar air minum yang sehat untuk ayam yaitu: - tidak berwarna- tidak berbau- jernih- tidak ada endapan pH = 6-9- kesadahan < 20 mg/liter- garam (NaCI) < 1000 ppm- total bahan terlarut < 3000 mg/liter- nitrat dan nitrit < 5 ppm- logam beracun < 0,5 ppm total- jumlah bakteri < 3000/ml- total jumlah coliform < 300/ml- E.coli dan Salmonella sp. = 0 (tidak ada)

5. Tatalaksana litter

Cegah litter menjadi sangat kering dan berdebu dengan tidak memasang litter terlalu tebal (ketebalan litter cukup 7-12 cm saja). Program penggantian litter secara
berkala, biasanya untuk ayam pedaging dilakukan 1 kali sampai masa panen. Litter yang basah jangan dibalik tapi ditambah yang baru.
6. Segera obati
Ayam yang terserang penyakit saluran pernapasan segera diobati. Pengobatan dilakukan sedini mungkin dengan pertimbangan populasi bakteri E. coli masih relatif
 sedikit dan mencegah penyebaran bakteri E. coli yang lebih banyak. Pengobatan belum tentu bisa menyembuhkan penyakit colibacillosis secara tuntas jika bakteri E. Coli sudah banyak bersarang di tubuh ayam (sudah parah). Kandang panggung bisa digunakan sebagai alternatif mencegah penyakit Kolibasilosis yang selalu muncul.Pengobatan penyakit Kolibasilosis menggunakan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri E. coli. Untuk menghindari resistensi obat, jika pernah menggunakan satu jenis obat tertentu selama 3 periode pemeliharaan, sebaiknya periode pemeliharaan berikutnya meng¬gunakan antibiotik dari golongan yang berbeda.Pada dasarnya, penyakit Kolibasilosis lebih dipengaruhi oleh lingkungan karena sebenarnya kejadian penyakit ini dapat ditekan asalkan peternak selalu menerapkan  tatalaksana pemeliharaan yang baik..



6. Segera obati

Ayam yang terserang penyakit saluran pernapasan segera diobati. Pengobatan dilakukan sedini mungkin dengan pertimbangan populasi bakteri E. coli masih relatif
 sedikit dan mencegah penyebaran bakteri E. coli yang lebih banyak. Pengobatan belum tentu bisa menyembuhkan penyakit colibacillosis secara tuntas jika bakteri E. Coli sudah banyak bersarang di tubuh ayam (sudah parah). Kandang panggung bisa digunakan sebagai alternatif mencegah penyakit Kolibasilosis yang selalu muncul.Pengobatan penyakit Kolibasilosis menggunakan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri E. coli. Untuk menghindari resistensi obat, jika pernah menggunakan satu jenis obat tertentu selama 3 periode pemeliharaan, sebaiknya periode pemeliharaan berikutnya meng¬gunakan antibiotik dari golongan yang berbeda.Pada dasarnya, penyakit Kolibasilosis lebih dipengaruhi oleh lingkungan karena sebenarnya kejadian penyakit ini dapat ditekan asalkan peternak selalu menerapkan  tatalaksana pemeliharaan yang baik.

Kolibasilosis dan upaya pencegahaannya



Salah satu penyakit yang kerap menghinggapi peternakan  di daerah ciseeng bogor ini adalah Kolibasilosis. Penyakit ini sering dijumpai bahkan seolah-olah telah menjadi penyakit langganan yang sudah gak aneh lagi. Kejadian penyakit ini umumnya berkaitan langsung dengan pemilihan lokasi dan lingkungan peternakan terutama kebersihan. Salah satu yang kita  waspadai adalah dengan sumber air minum di lapangan, karena keberadaan bakteri Escherichia coli penyebab Kolibasilosis di air dan tanah merupakan flora normal. Mungkin juga berdasarkan pengamatan di lapangan, kebiasaan peternak menggunakan sumurdangkal sebagai sumber air minum untuk ternaknya merupakan penyebab utama Kolibasilosis.. Sebabnya, sumur dangkal tersebut rawan tercemari oleh kuman E. coli terutama yang letaknya dekat dengan septic tenk misalnya.  Upaya pencegahan bisa di mulai dari kebersihan lingkungan kandang.

1. Sanitasi dan desinfeksi kandang dan peralatannya.

Kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan. Tempat minum dicu¬ci setiap 2 kali sehari. Kemudian rendam tempat minum yang telah dicuci dalam
desinfektan selama 30 menit, setiap 4 hari sekali. Majukan atau rnundurkan jadwal desinfeksi bila bertepatan dengan jadwal vaksinasi.

2. Mencegah tamu, hewan liar, dan hewan peliharaan lain masuk ke lingkungan kandang

3. Mencegah stres.

Usahakan menghindari stres pada ayam dengan cara tatalaksana pemeliharaan yang benar, populasi ayam jangan terlalu padat, ventilasi udara cukup, dan diusahakan
agar kadar amonia kurang di dalam kandang. Karena saat stres, semua bibit penyakit dapat dengan mudah masuk ke tubuh ayam. 

4. Sanitasi air minum. 

Sanitasi sumber air minum untuk ayam dari pencemaran logam berat dan kuman patogen dengan melarutkan desinfektan yang aman dikonsumsi ayam. Program sanitasi air
minum dilakukan 1-2 kali dalam 1 minggu asal tidak mendekati jadwal vaksinasi. Sanitasi air rninum bisa dilakukan dengan klorinasi dengan cara memasukkan 3-5 ppm  klorin ke dalam air minum. Lebih dari dosis tersebut, malah dapat menurunkan konsumsi ransum, konsumsi air minum dan produksi telur karena mengubah aras dan bau. Di peternakan, klori¬nasi dilakukan menggunakan kaporit karena kaporit mengandung zat aktif klorin. Jika meng¬gunakan kaporit murni, maka untuk memperoleh kadar yang aman dalam air minum dibutuhkan 6-10 gram kaporit tiap 1000 liter. Namun, biasanya kaporit yang tersedia di pasaran adalah konsentrasi 50% sehingga dosi pemakaian menjadi dua kali dari kaporit murni, yaitu 12-20 gram tiap 1000 liter air.Kaporit dapat mengubah rasa dan bau air sehingga dapat menurunkan konsumsi air dan ransum. Oleh sebab itu, air minum yang mengandung kaporit harus dibiarkan terlebih dahulu minimal selama 6 jam sebelum diberikan ke ayam.Kualitas air sangat menentukan kadar bakteri di dalamnya, untuk mengetahui apakah sumber air rninum bebas dari pencemaran logam berat atau kuman patogen dapat dilakukan pemeriksaan sampel air di laboratorium.Standar air minum yang sehat untuk ayam yaitu: - tidak berwarna- tidak berbau- jernih- tidak ada endapan pH = 6-9- kesadahan < 20 mg/liter- garam (NaCI) < 1000 ppm- total bahan terlarut < 3000 mg/liter- nitrat dan nitrit < 5 ppm- logam beracun < 0,5 ppm total- jumlah bakteri < 3000/ml- total jumlah coliform < 300/ml- E.coli dan Salmonella sp. = 0 (tidak ada)

5. Tatalaksana litter

Cegah litter menjadi sangat kering dan berdebu dengan tidak memasang litter terlalu tebal (ketebalan litter cukup 7-12 cm saja). Program penggantian litter secara
berkala, biasanya untuk ayam pedaging dilakukan 1 kali sampai masa panen. Litter yang basah jangan dibalik tapi ditambah yang baru.
6. Segera obati
Ayam yang terserang penyakit saluran pernapasan segera diobati. Pengobatan dilakukan sedini mungkin dengan pertimbangan populasi bakteri E. coli masih relatif
 sedikit dan mencegah penyebaran bakteri E. coli yang lebih banyak. Pengobatan belum tentu bisa menyembuhkan penyakit colibacillosis secara tuntas jika bakteri E. Coli sudah banyak bersarang di tubuh ayam (sudah parah). Kandang panggung bisa digunakan sebagai alternatif mencegah penyakit Kolibasilosis yang selalu muncul.Pengobatan penyakit Kolibasilosis menggunakan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri E. coli. Untuk menghindari resistensi obat, jika pernah menggunakan satu jenis obat tertentu selama 3 periode pemeliharaan, sebaiknya periode pemeliharaan berikutnya meng¬gunakan antibiotik dari golongan yang berbeda.Pada dasarnya, penyakit Kolibasilosis lebih dipengaruhi oleh lingkungan karena sebenarnya kejadian penyakit ini dapat ditekan asalkan peternak selalu menerapkan  tatalaksana pemeliharaan yang baik..



6. Segera obati

Ayam yang terserang penyakit saluran pernapasan segera diobati. Pengobatan dilakukan sedini mungkin dengan pertimbangan populasi bakteri E. coli masih relatif
 sedikit dan mencegah penyebaran bakteri E. coli yang lebih banyak. Pengobatan belum tentu bisa menyembuhkan penyakit colibacillosis secara tuntas jika bakteri E. Coli sudah banyak bersarang di tubuh ayam (sudah parah). Kandang panggung bisa digunakan sebagai alternatif mencegah penyakit Kolibasilosis yang selalu muncul.Pengobatan penyakit Kolibasilosis menggunakan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri E. coli. Untuk menghindari resistensi obat, jika pernah menggunakan satu jenis obat tertentu selama 3 periode pemeliharaan, sebaiknya periode pemeliharaan berikutnya meng¬gunakan antibiotik dari golongan yang berbeda.Pada dasarnya, penyakit Kolibasilosis lebih dipengaruhi oleh lingkungan karena sebenarnya kejadian penyakit ini dapat ditekan asalkan peternak selalu menerapkan  tatalaksana pemeliharaan yang baik.

Tuesday, May 31, 2016







Penyakit Gumboro

Infectious Bursal Disease (IBD) atau  Gumboro adalah virus penyakit yang biasa menyebabkan penyakit gumboro  di peternakan broiler bogor daerah kami di ciseeng, Bogor. kunci pendukung pengendalian kasus Gumboro adalah penanganan pada biosekuriti dan sanitasi lingkungan kandang.
Manajemen pemeliharaan yang baik haruslah diterapkan, agar kasus Gumbor bisa lebih jauh ditekan. Berikut akan kami ulas sekilas mengenai tips mengatasi virus Gumboro yang sudah bersarang di peternakan, dilihat dari sisi biosekuriti dan manjemen.

Karakteristik Virus Gumboro 

Penyakit Gumboro disebabkan oleh virus yang berasal dari famili (keluarga) Birnaviridae dan genus Avibirnavirus. Virus ini memiliki dua serotipe yaitu I dan II.Hanya serotipe I yang patogenik (menimbulkan sakit) pada ayam. Sedangkan serotipe II menyerang kalkun dan tidak patogenik pada ayam.Virus Gumboro memiliki struktur tidak beramplop, berbentuk simetris icosahedral dan berisi dua utas rantai RNA (ribonucleic acid). Karena tidak beramplop, virus ini memiliki kelebihan yaitu lebih stabil dan mampu bertahan hidup lebih lama di lingkungan. Bayangkan saja, di luar tubuh hospes (ayam, red), virus ini tahan hidup lebih dari 3 bulan dan masih bersifat infektif (mampu menginfeksi ayam lain, red). Virus Gumboro juga stabil hidup dalam rentang pH yang luas (pH 2-8) serta tahan terhadap panas (60ºC selama 30 menit) (MacLachlan dan Stott, 2004). MacLachlan dan Stott (2004) juga menyatakan bahwa virus Gumboro masih bisa ditemukan di kandang yang telah dipanen lebih dari 100 hari (tanpa didesinfeksi).

Penularan Virus Gumboro 

Karena virus Gumboro termasuk jenis virus yang mudah menular, maka kasus Gumboro di lapangan bisa menyebar dengan sangat cepat. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya penyakit Gumboro tidak diturunkan dari induk ayam ke anaknya, namun menular secara langsung dari  feses karena ayam yang terinfeksi Gumboro akan mengeluarkan virus melalui fesesnya. Selama ini feses memang menjadi media penular utama penyakit Gumboro. Dari beberapa literatur diketahui bahwa virus Gumboro di dalam feses masih  infektif hingga 122 hari setelah dieksresikan (dikeluarkan) oleh ayam.

Selain melalui feses, media lain seperti litter, tempat air minum dan ransum juga dapat berperan sebagai media penular jika sebelumnya pernah terkontaminasi feses  yang mengandung virus Gumboro. Virus Gumboro di dalam air minum dan ransum ayam misalnya diketahui pula masih infektif hingga 52 hari setelah dieksresikan(Tabbu, 2000).Karena virus Gumboro dari ayam sakit banyak terakumulasi di dalam feses, maka penanganan feses termasuk litter kandang wajib diperhatikan. Hal ini karena feses dan litter sekaligus menjadi tempat berbagai vektor penyakit Gumboro berkembang biak.

Salah satu vektor utamanya adalah kumbang franky/darkling ,beetle (Carcinops pumilio) et al., (1995). Bahkan menurut Tabbu (2000), cacing, lalat, nyamuk dan tikus pun bisa ikut berperan sebagai vektor Gumboro. Vektor tersebut umumnya sudah terbiasa hingga pada feses dan sesaat kemudian pindah ke tempat ransum atau air minum.  Hal inilah yang juga perlu diwaspadai. ( info Medion ).

Virus Gumboro 1.







Penyakit Gumboro

Infectious Bursal Disease (IBD) atau  Gumboro adalah virus penyakit yang biasa menyebabkan penyakit gumboro  di peternakan broiler bogor daerah kami di ciseeng, Bogor. kunci pendukung pengendalian kasus Gumboro adalah penanganan pada biosekuriti dan sanitasi lingkungan kandang.
Manajemen pemeliharaan yang baik haruslah diterapkan, agar kasus Gumbor bisa lebih jauh ditekan. Berikut akan kami ulas sekilas mengenai tips mengatasi virus Gumboro yang sudah bersarang di peternakan, dilihat dari sisi biosekuriti dan manjemen.

Karakteristik Virus Gumboro 

Penyakit Gumboro disebabkan oleh virus yang berasal dari famili (keluarga) Birnaviridae dan genus Avibirnavirus. Virus ini memiliki dua serotipe yaitu I dan II.Hanya serotipe I yang patogenik (menimbulkan sakit) pada ayam. Sedangkan serotipe II menyerang kalkun dan tidak patogenik pada ayam.Virus Gumboro memiliki struktur tidak beramplop, berbentuk simetris icosahedral dan berisi dua utas rantai RNA (ribonucleic acid). Karena tidak beramplop, virus ini memiliki kelebihan yaitu lebih stabil dan mampu bertahan hidup lebih lama di lingkungan. Bayangkan saja, di luar tubuh hospes (ayam, red), virus ini tahan hidup lebih dari 3 bulan dan masih bersifat infektif (mampu menginfeksi ayam lain, red). Virus Gumboro juga stabil hidup dalam rentang pH yang luas (pH 2-8) serta tahan terhadap panas (60ºC selama 30 menit) (MacLachlan dan Stott, 2004). MacLachlan dan Stott (2004) juga menyatakan bahwa virus Gumboro masih bisa ditemukan di kandang yang telah dipanen lebih dari 100 hari (tanpa didesinfeksi).

Penularan Virus Gumboro 

Karena virus Gumboro termasuk jenis virus yang mudah menular, maka kasus Gumboro di lapangan bisa menyebar dengan sangat cepat. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya penyakit Gumboro tidak diturunkan dari induk ayam ke anaknya, namun menular secara langsung dari  feses karena ayam yang terinfeksi Gumboro akan mengeluarkan virus melalui fesesnya. Selama ini feses memang menjadi media penular utama penyakit Gumboro. Dari beberapa literatur diketahui bahwa virus Gumboro di dalam feses masih  infektif hingga 122 hari setelah dieksresikan (dikeluarkan) oleh ayam.

Selain melalui feses, media lain seperti litter, tempat air minum dan ransum juga dapat berperan sebagai media penular jika sebelumnya pernah terkontaminasi feses  yang mengandung virus Gumboro. Virus Gumboro di dalam air minum dan ransum ayam misalnya diketahui pula masih infektif hingga 52 hari setelah dieksresikan(Tabbu, 2000).Karena virus Gumboro dari ayam sakit banyak terakumulasi di dalam feses, maka penanganan feses termasuk litter kandang wajib diperhatikan. Hal ini karena feses dan litter sekaligus menjadi tempat berbagai vektor penyakit Gumboro berkembang biak.

Salah satu vektor utamanya adalah kumbang franky/darkling ,beetle (Carcinops pumilio) et al., (1995). Bahkan menurut Tabbu (2000), cacing, lalat, nyamuk dan tikus pun bisa ikut berperan sebagai vektor Gumboro. Vektor tersebut umumnya sudah terbiasa hingga pada feses dan sesaat kemudian pindah ke tempat ransum atau air minum.  Hal inilah yang juga perlu diwaspadai. ( info Medion ).